Senin, 08 Februari 2010

THE POWER OF KEPEPET

"Seandainya sekarang Anda tidak memiliki uang tabungan. Penghasilan pun
kurang dari 5 juta sebulan. Apakah Anda bisa mendapatkan uang 50 juta,
jam 9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta
seminar, hampir semua menjawab, tidak bisa. Kenapa? Karena mereka
mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan
penghasilan 5 juta perbulan, jika saving-nya 2 juta perbulan, maka perlu
25 bulan untuk mendapatkan 50 juta.

 
 

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari
ini, anak Anda atau orang yang paling Anda sayangi mendadak sakit keras.
Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi besok
juga, jika tidak, maka nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya
bisa dilaksanakan jika Anda menyerahkan uang tunai sejumlah 50 juta
rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah Anda masih akan
mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa?
Karena kepepet, jika tidak, nyawa orang yang kita cintai tsb akan
melayang.

 
 

Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak
diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk
berpikir "bagaimana harus bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya,
membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang
mendesak? Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar
biasa, di luar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut
seringkali hanya akan keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang
nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.

 
 

KEPEPET VS IMING-IMING

 
 

Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah.
Yang pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua
hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi. Kesalahan
fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi
lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai 'iming-iming' untuk
menggerakkan audiens. "Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil
mewah? Rumah mewah? atau bahkan kapal pesiar?" Memang, saat di ruang
seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi
masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin
juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka
sayangi. Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.

 
 

Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di
suatu perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem
bonus. "Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan
mendapat bonus jalan-jalan keluar negeri!" kata managernya. "Gimana,
semangat?" lanjut manager berinteraksi. "Semagaat..ngat. .ngat!" sambut
salesman, sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi
bulan pun berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager
bertanya,"Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?". "Enggak kok Pak,
cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak". Setelah 3 bulan
masa 'iming-iming' tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia
berteriak agak menekan di dalam meetingnya," Pokoknya, jika anda tidak
bisa mencapai target penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya
PECAT!". Nah, keluarlah keringat dingin si salesman. Sekeluar dari
ruangan dia langsung menyambangi calon-calon customernya, kerjanyapun
semakin giat. Malas, malu, nggak pe-denya hilang seketika. Kok bisa?
Karena KePePet! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat memenuhi target,
dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol. "Trus anak
istriku makan apa?" pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama ini
tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui. Itulah yang disebut The
Power of Kepepet.

 
 

97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena
iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa "Kondisi Kepepet
adalah motivasi terbesar di dunia!". Banyak perusahaan mengkampanyekan
Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? "Emang gua
pikirin!". Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi
perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka
lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa
mendatang ataupun berupa punishment. John P. Kotter (Harvard Business
Review) mengemukakan "Establishing Sense of Urgentcy" adalah langkah
pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan
melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka
tergerak, sebelum mengkomunikasikan visi. Fungsi Visi adalah memberikan
arah, sedangkan The Power of Kepepet yang mendorong untuk bergerak.

 
 

MENCIPTAKAN KONDISI KEPEPET

 
 

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka
yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti pegas, saat kita tekan, maka akan
menimbulkan gaya tolak yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita
lakukan? Cara pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, dengan
cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi
kepepet, maka kita akan memfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita,
bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini Anda di-PHK,
apa yang Anda rasakan?

 
 

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara fisik.
Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan
membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga
kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang
memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu
terpaksa berpikir bagaimana melunasinya. Jika Anda masih single dan
tidak punya tanggungan keluarga, mungkin Anda mau langsung mencoba
keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan Anda lho, jangan
salahkan saya untuk risikonya. Tergantung dari karakter masing-masing
orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil.
Namun jangan lupa, Integritas dan Kredibilitas tetap harus dijaga.

 
 

Cara manapun yang akan Anda pilih, yang penting MELANGKAH,
jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca tulisan saya ini. Karena
kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan membaca, tapi dengan
ACTION.

 
 

"Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan
beranjak untuk berubah"

 
 

FIGHT!

SUMBER : YUKBISNIS.COM

Dikirim dari Milist [SMAN11BDG] Selasa, 9 Februari, 2010 10:37 Dari: "Yeyen Sudaryani"


 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar