Jumat, 04 Juni 2010

DATA FBI: 99,6% AKSI TERORIS BUKAN DARI MUSLIM


Para kaum Islamofobia mempopulerkan klaim bahwa "tidak semua muslim adalah teroris, tetapi (hampir) semua teroris adalah Muslim." Meskipun ide ini menjadi aksiomatik di beberapa kalangan, tetapi sangat sederhana hal itu tidak faktual.

Dalam catatan FBI resmi justru menunjukkan bahwa hanya 6% dari serangan teroris di wilayah AS 1980-2005 dilakukan oleh ekstremis Islam. Sisanya 94% berasal dari kelompok-kelompok lainnya (42% dari Latin, 24% dari kelompok sayap kiri ekstrim, 7% dari ekstremis Yahudi, 5% dari komunis, dan 16% dari semua kelompok lain).

Data yang dikumpulkan oleh Europol bahkan lebih menguatkan argumen lebih jauh. Europol menerbitkan laporan tahunan berjudul Terorisme Uni Eropa Situasi dan Laporan Trend. Pada website resmi mereka, Anda dapat mengakses laporan dari 2007, 2008, dan 2009.

Hasilnya jelas, dan tegas membuktikan bahwa tidak semua teroris adalah Muslim. Bahkan, sebuah 99,6% dari serangan teroris di Eropa dilakukan oleh kelompok-kelompok non-Muslim; dan 84,8%-nya berasal dari kelompok separatis yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam.

Artinya, hanya kasus tertentu yang berhubungan dengan Muslim, itupun karena dengan alasan tertentu misalnya karena penindasan, dan jumlahnya hanya 0,4%.

Jadi bagaimana bisa, Muslim adalah teroris?[cintaislam /eramuslim]

Sumber : Mailist grup mualafindonesia, Mei 2010

Dikirim : Nugroho Laison


 


 

Komen :

Hipotesis Muslim=Teroris ternyata tidak terbukti…..

Fakta yang tak terbantahkan Zionis Israel dan USA adalah the Real Teroris

Link aslinya :


 

http://mpac.ie/2010/01/29/europol-report-all-terrorists-are-muslims%E2%80%A6except-the-99-6-that-aren%E2%80%99t/


 

Pengakuan Guru Tentang Ujian Nasional



Assalamu'alaikum wr.wb.,

Ini sebuah email dari seorang guru yang dikirim kepada saya. Saya dapat izin untuk membagikan dengan teman2 yang lain, dan sengaja tidak menyebut nama sang guru yang lapor. (Supaya tidak ditangkap seperti Susno!)

Silahkan membaca.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Gene

 
 

********

 
 

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Pak Gene, membaca dan menyimak tulisan Bapak tentang "Ini Saatnya Mengubah Peran Guru Dalam Pendidikan Nasional", saya merasa perlu untuk memberikan komentar. Komentar yang saya tulis adalah lebih bersifat pengalaman pribadi.

Saya adalah seorang guru SMK & SMA yang sudah mengajar selama 15 tahun dengan status guru honor lepas. Selama 15 tahun saya mengajar tidak pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena sistem pengangkatan PNS yang diperjual-belikan. Sedangkan saya tidak tertarik dengan cara seperti itu. Saya lebih bangga menjadi guru Sa'i (guru ke sana ke mari/mengajar dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain), tetapi dengan cara yang "Fair".

Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional tingakat SMA tahun ini, saya bertugas sebagai pengawas di salah satu SMA negeri. Pada hari pertama mengawas, saya sudah menemukan kecurangan yang dilakukan oleh siswa (membuka Hp yang berisi kunci jawaban). Hp saya ambil dan saya laporkan kepada panitia ujian di sekolah tersebut. Tetapi saya mendapat jawaban yang kurang enak didengar oleh telinga: "Wah, saya juga dapat sms yang sama di 3 Hp saya Bu, biar nanti siswanya saya tangani". (Itu jawaban yang dikeluarkan dari mulut salah satu panitia ujian di SMA tersebut).

Hari ketiga mengawas, saya menemukan hal yang sama. Seorang siswi yang duduk tepat di depan mata saya membawa secarik kertas yang berisi kunci jawaban. Setelah diperingati dengan isyarat dan kata-kata, siswi tersebut tetep "nekat" dan akhirnya saya mengambil kertas kunci jawaban tersebut.
Peristiwa ini saya tulis dalam berita acara dan ditanda-tangani oleh saya dan satu orang guru yang berasal dari SMA lain.

Pada hari keempat mengawas, saya mendapat sms bahwa saya tidak diperkenankan untuk mengawas dan diminta untuk menghadap kepala sekolah tempat saya mengajar.
Saya dimintai keterangan mengenai hal tersebut. Setelah memberikan penjelasan panjang lebar akhirnya Kepala Sekolah itu berkata bahwa hal ini menjadi masalah besar karena beliau ditelpon oleh Kepala Dinas, Ketua Panitia Ujian Nasional Tingkat Kota sampai Ketua PGRI di kota saya. Dan hari itu juga dilakukan rapat pertemuan diantara mereka pada jam 13.00.

Hari kelima mengawas, saya tetap di skorsing dan anehnya, saya mendapat ancaman yang berisi: Kalau saya memperpanjang masalah ini, maka urusannya bisa panjang dan keselamatan saya terancam (saya akan dibunuh). Dan hari itu juga saya kedatangan tamu seorang polisi yang menanyakan peristiwa tersebut.
Saya tidak gentar walau ada perasaan was-was.

Waktu berlalu, hasil Ujian Nasional diumumkan. Dari hasil pengumuman yang saya baca ternyata semua siswa SMA tempat dimana saya mengawas "LULUS 100%".
Timbul pertanyaan dalam hati kecil saya: "APAKAH INI PENILAIAN YANG OBYEKTIF?"
Saya berusaha mencari jawaban secara diam-diam (seperti detektif amatiran). Akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata berita acara yang saya buat diganti dengan berita acara yang baru dan tanda tangan saya yang simple dipalsukan. Wah....wah.. ..wah...."HEBAT", dunia pendidikan juga ada mafianya, itu pemikiran saya.

Kejadian tersebut tersebar luas diantara teman sejawat. Sekarang mereka memperlakukan saya acuh tak acuh dan saya mendapatkan stempel "GURU IDEALIS".
Memang sedih rasanya melakukan hal yang "HAK" tetapi harus menerima kenyataan diperlakukan bagaikan orang asing yang baru dikenal.

Saya bukan guru idealis, tetapi saya ingin mendidik anak-anak dengan sikap yang sportif.
Memang berat pak mengahadapi dunia pendidikan di Indonesia, dan saya sudah berkali-kali mendapat benturan di sana-sini hanya demi sebuah kebenaran. (Masih ada pengalaman -pengalaman lain).
Karena dalam hal ini mayoritas guru hanya menjalani pekerjaannya seperti robot, datang-mengajar- pulang.
Sementara minoritas guru yang berusaha untuk memperbaiki dunia pendidikan ini selalu "terkalahkan" oleh yang mayoritas.

Pertanyaan yang ada di benak saya: Sampai kapan pendidikan akan berjalan seperti ini????
Apakah ada wadah guru-guru yang berani berdiri di depan untuk menegakkan kebenaran dan berusaha memperbaiki sistem yang berlaku saat ini????

Rasanya, hanya Allah SWT yang Maha Tahu apa yang ada di dalam hati saya.
Sekarang dan hari-hari selanjutnya saya tetap melakukan aktivitas saya sebagai guru, walaupun dengan situasi dan suasana lingkungan kerja yang tidak seperti biasanya.

 
 

Terima kasih Pak Gene yang sudah mau membaca email saya.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

[nama dihapus]


 

Sumber : Mailist grup mualafindonesia, Mei 2010

Dikirim : Gene Netto


 


 

Komen :

Astaghfirulloh …. 600Milyar hanya untuk berdusta…. Dusta yang Kolektif dan Sistematis

Alangkah Lucunya Negeri Ini


 


 


 

TUHAN SEMBILAN SENTI



Oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di
bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.


 

Sumber : Mailist grup mualafindonesia, Juni 2010

Dikirim : Arif Setiawan


 


 

Komen :

Ayo temen2 yang masih merokok, mari kita hentikankebiasaan merokok…

Hentikan kebiasaan mendzolimi diri sendiri