Kamis, 28 Januari 2010

MERASA DIRI PALING MERANA


 

Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.

Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.

Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.

Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."

Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."

Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah.  Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."

Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."

Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:

"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!

Cahaya Langit,

Bobby Herwibowo

www.kaunee.com

Dikirim oleh : milist mualaf Indonesia

KEJADIAN LUCU DI JALAN CIDENG

Assalamualaikum wr wb.

cuman ingin share aja.... ada kejadian aneh di lampu merah cideng hari
ini. hari ini demo besar2an katanya se-indonesia. banyak pengalihan
jalan, dari kelapa gading-tanah abang biasa 1/2-3/4 jam, jadi 1 jam
lebih. saya putuskan lewat harmoni agak muter, harapan saya lancar.
emang lancar sih. tiba2 berhenti di persimpangan cideng dekat optik
melawai, karena lampu merah. tiba2 serombongan kopaja sewaan lewat...
isinya bapak2,ibu2, kakek2, nenek2, bahkan cukup banyak balita yg
gelayutan di dalamnya. sebelumnya di depan barisan mass bawa bendera
bintang warna kuning kalo gak salah, kalo dari muka2nya sih saya gak
yakin itu mahasiswa, bajunya juga bebas kaus kumel dan lusuh, bis
pertama anak2 muda potongan kayak abang2 gitu. kopaja kedua dan
seterusnya baru yg berisi nenek2,kakek2, balita2 yg mungkin seumuran
ponakan saya yg 4-5 tahunan, benar2 terlihat jelas. masing2 kopaja
dilabeli seolah2 terorganisir "jelambar 1", "jelambar 2", "wijaya
kusuma-1", dst dst dst .... saya ketawa2 sendiri, emangnya apa urusan
anak2 balita itu sama 100 hari pemerintahan SBY. sorry, saya gak mau
buat polemik pro-kontra pemerintahan beliau, mohon moderator awasi
reply2 yg mungkin akan datang agar tidak terjadi debat politik di
sini. kita tidak membahasnya di sini, ada tempat2 khusus utk debat
politik. silahkan ke milist2 ybs. saya cuman mau bagi2 cerita unik yg
saya lihat tadi pagi. kata sahabat saya "itu mah bukan mau demo, mau
piknik kali hehehe" :P

Wassalam,
Martin

Dikirim dari milist mualafindonesia

Komenku :

Yah, dari dulu banyak opportunis dalam dunia politik Indonesia…demo2 gitu ada brokernya, ada penyandang dananya…

Rabu, 20 Januari 2010

KRISTENISASI BERJALAN

Assalamualaikum, akh, yang ane tau, metode berjalan 2 - 3 orang dan mengajar bibel adalah metode yang digunakan oleh orang orang dari saksi jehova, dan sudah ada sejak 1999, nanti kalo mau ngedengerin mereka bicara, biasanya dikasih majalah menara pengawas gratis
Cobalah ajak dialog sebentar, diluar rumah, tanyakan hal hal mendasar pada mereka, setahu ane, saksi jehova sangat menentang ketuhanan jesus, dan mereka mengakui kitab perjanjian lama, nah ajak ngobrol santai aja dari kitab mereka tentang kitab yg mereka bawa, untuk menambah wawasan demi pembentengan aqidah aja, so kita jadi lebih tahu seberapa besar kita harus mempersiapkan pembentengan dan pembekalan aqidah pada keluarga kita

Semoga berguna
Wassalamualaikum


 

From: Arie Setiyanto <arie_ragil@yahoo. com>

Date: Tue, 19 Jan 2010 13:00:16 +0800 (SGT)

To: <mualafindonesia@ yahoogroups. com>

Subject: [mualafindonesia] Kristenisasi - berjalan


 

 
 

Assalamu 'alaikum wr.wb,

Hanya sekedar berbagi cerita kejadian yang saya alami hari minggu kemarin.

Kebetulan baru istirahat dan gak ada acara keluar rumah bersama keluarga, karena susana mendung.

merasa tidak ada kegiatan, akhirnya bosen dan timbulah keinginan untuk mencuci mobil didepan rumah.

Baru mulai mencuci, tiba-tiba datang 2 orang ibu-ibu. Yang satu berkulit putih bersih, gemuk dan berbaju putih dengan jas warna merah. Dan yang satu berkulit lebih gelap agak kuyu malahan, jauh lebih kurus dan membawa payung.

Singkat kata  seperti jongos dengan juragannya.

Kemudian ibu-ibu ( Ibu M )  tadi nyamperin saya dan terjadi dialog sebentar.
Ibu M : " Siang pak, maaf mengganggu. Mau nanya disekitaran sini yang beragama kristen sebelah mana ya ?"

Saya : " wah tidak hafal saya. Ada apa ya ?"
Ibu M  : " nggak. Saya br mencari orang kristen yang mau belajar Al-kitab. "
Saya : " ooo...wah sorry saya gak bisa bantu".
Ibu M : " Kalau sebelah bapak rumah bapak ini kristen tidak ya ?.
dengan berbohong saya jawab. : " bukan, mereka moslem ".
Ibu M : " dimana yah yang beragama kristen disini. Atau bapak tertarik belajar Al-kitab ?"
bathin saya kurang ajar juga nih orang.
Saya : " Boleh. Tapi dengan syarat ibu harus bisa jawab pertanyaan saya. mau Nggak ?"
Ibu M : " Boleh pak, apa yah pertanyaannya ?"
Saya : " pertama. coba jelaskan kesaya kalau kitab yang anda bawa itu bener wahyu Allah / Tuhan mu, kenapa setiap tahun harus direvisi sesuai dengan kemauan kalian / pemuka agama kalian ? Kalau Tuhan kalian bodoh kenapa anda yakini ?"
          : " Yang kedua, diayat mana yang ada perintah untuk menyembah kristus, bukankah isinya disuruh menyembah Allah ? Dan bukankah kalian juga disuruh bersujud bukan bernyanyi seperti yang kalian lakukan ?"
          : " silahkan jawab ".

Kemudian ibu itu terdiam, kemudian tanpa permisi langsung pergi.

Dapat dibayangkan betapa sangat agresifnya mereka dalam usaha untuk mengkafirkan sesorang.

Alhamdulillah, Allah masih bersamaku.

Wassalamu'alaikum wr.wb


 


 

Dari

Milist Mualaf Indonesia, 20/01/2010


 

Komen-ku

Mungkin ada imbal finansialnya sehingga mereka begitu semangat bahkan dengan cara2 menipu, menghipnotis, kamuflase…., kebenaran sejati tidak akan dijualkan dan ditawarkan dengan cara2 seperti itu……Lihat di Eropa dan Amerika, disana masyarakatnya berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan dan tipuan

Selasa, 05 Januari 2010

Karena Ikhlas 1 Dirham Diganti 120.000 Dirham

Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang pria berncerita padaku:
Ada laki-laki yang berjualan benang tenun, ia menjual benang tenun itu satu dirham untuk membeli kebutuhan makan keluarganya. Ketika pulang dari pasar, ia melewati dua orang laki-laki yang sedang bertengkar karena memperebutkan uang satu dirham. Maka, agar tidak bertengkar ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, sehingga iapun tak memiliki sesuatu lagi.

Sesampai di rumah ia mengabarkan pada istrinya apa yang baru saja terjadi. Sang isteripun lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga untuk digadaikan demi memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu, tetapi barang-barang tersebut tidak laku.

Tiba-tiba ia berpapasan dengan pria yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu berkata, "Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya. Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?" Ia pun mengiakan.

Lalu ikan itu dibawanya pulang untuk dimasak istrinya karena mereka hampir tak berdaya lagi karena lapar. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Namun tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut

Wanita itu pun berkata gembira, 'Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu."
Suaminya berkata, "Perlihatkanlah kepadaku!" Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar.
"Berapa nilai mutiara ini?" Tanyanya dalam hati. Iapun lalu disuruh istrinya menjualnya kepada pedagang mutiara yang ada di kotanya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara.

Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, kemudian berkata, "Aku hargai barang itu 120.000 dirham. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani membeli di atas harga itu. Ia pun setuju menjualnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan.

Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, "Saya punya kisah, karena itu masuklah saya akan menceritakannya kepadamu." Orang itu pun masuk. Setelah bercerita tentang kisahnya ia lalu berkata. "Ambillah sebagian dari hartaku ini". Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya.

Setelah agak menjauh, orang fakir itu berkata, "Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir. Tetapi Alloh Ta'ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan yang diberikanNya kepadamu baru-baru ini adalah hanya satu qirath daripada-Nya, dan Dia masih menyimpan untukmu 19 qirath yang lain."

Sudahkan kita menjadi pribadi yang ikhlas ?
Wallohu a'lam.

Senin, 04 Januari 2010

Melirik Kemasa Silam, Menatap Kemasa Depan

 
 

Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.

 
 

Sudah selesai pesta tahun barunya? Ya, tentu saja. Meski terompet masih berfungsi, Anda tidak lagi tertarik untuk meniupnya kencang-kencang dimalam hari. Meski kembang api masih tersisa, anda tidak akan membiarkan nyalanya menggantikan kerinduan anda atas kasur empuk dan bantal guling. Hari ini kita kembali kepada realitas yang jauh dari segala hingar bingar bunyi terompet dan gemerlap kembang api. Namun, hari ini kita layak merenungkan jika setelah perayaan besar-besaran itu masa depan anda menjadi lebih cerah dari sebelumnya atau tidak?    

Saya sedang mencari alamat didaerah yang agak asing ketika tiba-tiba saja sebuah mobil melesat kencang dari arah depan. Dalam hitungan sepersekian detik sejak saya melihatnya, tiba-tiba mobil itu menghantam kaca spion sebelah kanan saya dengan suara yang mengejutkan. Dan setelah bunyi keras itu, kaca spion kami tidak lagi berada ditempatnya. Saya menepi dan berhenti. Namun, mobil yang menabrak itu terus melaju dalam kecepatan tinggi. Sementara ditengah jalan, kaca spion mobil kami tergolek pasrah terpecah-pecah.

Saya tidak menyukai apa yang terjadi. Namun, tidak ada gunanya mengejar mobil yang kabur itu. Jadi, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan; tanpa kaca spion. Sungguh, saya tidak pernah benar-benar menyadari betapa bernilainya keberadaan sebuah kaca spion sebelum kejadian itu. Tiba-tiba saja, saya menyadari betapa pentingnya benda kecil itu. Karena, meskipun ukurannya kecil, namun kaca spion membantu kita melihat ke belakang. Yaitu,  ke area yang tidak mungkin kita jangkau dengan memalingkan muka kearahnya. Bayangkan seandainya saat menyetir kita memutar leher dan melihat kearah belakang. Tentu sangat membahayakan keselamatan, bukan? Tetapi, dengan bantuan kaca spion yang kecil itu, kita bisa mengetahui situasi dibelakang tanpa harus mengarahkan wajah kita kesana.

Hey, sebentar dulu. Apakah saya berungkali menyebut kaca spion yang 'kecil'? Ah, ya. Faktanya memang ukuran kaca spion sangat kecil dibandingkan dengan kaca-kaca lain dalam mobil. Dengan fakta itu, tiba-tiba saja saya menemukan dua kesadaran. Pertama, secara fisik ukuran kaca spion memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kaca depan mobil kita. Dan kedua, kita tidak melepaskan pandangan kita kearah depan saat melirik kaca spion untuk mengetahui situasi dibelakang. Dan bagi saya, kedua fakta itu mengisyaratkan dua pelajaran yang sangat luar biasa.

Pelajaran pertama; ukuran kaca depan mobil yang lebih besar dari spion mengingatkan kita tentang 'porsi'. Artinya, kita memang harus memberi porsi yang lebih besar terhadap masa depan, bukan ke masa silam yang sudah kita tinggalkan. Kenyataannya, kita sering terjebak dengan masa silam. Sehingga, kita memberi porsi perhatian yang terlampau besar kepada masa silam daripada masa depan. Misalnya, saat menghadapi situasi sulit; kita sering merintih sambil membandingkan situasi ini dengan saat-saat indah dimasa lalu. Sehingga semakin mengingat masa silam, semakin sakit rasanya kesulitan yang tengah kita hadapi saat ini.

Bayangkan seandainya kita lebih banyak melihat kaca spion, dibandingkan dengan kaca depan mobil kita saat berkendara. Mungkin kita lebih sering mengalami kecelakaan daripada selamat sampai tujuan. Barangkali hidup kita juga demikian. Jika kita terlampau banyak mengurung diri dengan kesuksesan dan kegembiraan masa lalu, kita bisa lengah terhadap masa depan. Oleh karena itu, barangkali memang seharusnya kita lebih banyak melihat kedepan daripada bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa silam. Jadi, kita tidak terjebak dalam jeratan kisah sentimetil masa silam yang membuat gerak langkah kita terhambat.

Pelajaran kedua; kita tidak melepaskan pandangan kearah depan saat melirik kaca spion. Mari ingat-ingat kembali saat kita berkendara. Kita tidak pernah melihat kaca spion terlampau lama. Bahkan sesungguhnya, kita tidak 'benar-benar' melihat kaca spion itu. Kita hanya meliriknya beberapa detik saja. Dan saat kita meliriknya, kita tidak pernah melepaskan padangan kearah depan. Karena sungguh, mata kita berfokus kearah depan yang menjadi arah laju kendaraan.

Jangan-jangan, hidup kita juga demikian. Kita memang perlu sesekali menengok ke masa silam. Agar kita bisa menarik pelajaran dari pengalaman. Dan terlebih lagi bisa mensyukuri semua anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Namun, kita tidak boleh terjebak disana. Karena, roda kehidupan kita tidak berhenti dimasa lalu, melainkan terus melaju kini. Untuk menuju masa depan. Sungguh berbahaya jika kita membiarkan jiwa ini tertinggal di masa lalu. Terbelenggu oleh kenyaman yang telah lampau. Terjerat oleh kenikmatan hari kemarin. Dan terperangkap dalam bayang-bayang pencapaian dimasa silam.

Jika kita merasa perih kini, tidak berarti masa lalu kita jauh lebih baik. Jika kita merasa berat sekarang, tidak serta merta menandakan masa depan kita akan suram. Sebab, seperti tengah mengendari kendaraan; kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan. Namun, selama berkendara itu; kita tidak sedikitpun berpaling dari masa depan. Bahkan, sekalipun kita sedang ingin tahu ada apa dibelakang. Karena, meski kita melirik kaca spion pun, kita tidak pernah melepaskan tatapan kita kearah depan. Sebab, ketika kita memandang kemasa depan; kita tidak lagi terpengaruh oleh apa yang kita tinggalkan. Disepanjang lintasan. Masa silam. Masa silam adalah energi untuk berterimakasih kepada Tuhan. Sedangkan masa depan adalah alasan mengapa kepada-Nya; kita menggantungkan harapan.

Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman

Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  

http://www.dadangka darusman. com/  

Catatan Kaki:

Kita tidak akan pernah sampai kemasa depan, jika disepanjang perjalanan; mata kita selalu melihat masa silam.